Nanga: muara sungai yang menjadi nama banyak tempat di Kalimantan Barat
Cerita Kalbar1 menit baca

Dari Nanga Pinoh sampai Nanga Taman. Kenapa begitu banyak tempat di Kalbar diawali kata nanga, dan kenapa kami memakainya sebagai nama.
Jika membuka peta Kalimantan Barat, Anda akan menemukan banyak nama tempat yang diawali kata nanga. Nanga Pinoh di Kabupaten Melawi, Nanga Tayap di Ketapang, Nanga Taman di Sekadau, dan masih banyak lagi. Dalam bahasa Iban dan beberapa bahasa Dayak lain, nanga berarti muara: titik tempat sebuah sungai bertemu sungai lain yang lebih besar.
Sungai sebagai jalan utama
Kalimantan Barat dialiri Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia, beserta ratusan anak sungainya. Jauh sebelum jalan darat dibangun, sungai adalah jalan utama. Orang bepergian, berdagang, dan mengirim hasil hutan serta kebun dengan perahu. Wajar jika permukiman tumbuh di muara, karena di sanalah perahu dari berbagai arah bertemu.
Muara sebagai tempat berdagang
Di muara, pedagang dari hilir membawa garam, gula, dan kain, sementara warga dari hulu membawa karet, rotan, dan hasil ladang. Pertemuan itu melahirkan pasar, lalu kampung, lalu kota kecamatan. Banyak kota di pedalaman Kalbar yang tumbuh dengan cara ini, dan namanya masih menyimpan jejak tersebut.
Kenapa kami memakai nama Nanga
Kantor kami berada di Nanga Taman, Kabupaten Sekadau. Kami memilih nama Nanga karena ingin memainkan peran yang sama seperti muara: menjadi titik temu. Kali ini antara usaha kecil di Kalimantan Barat dan teknologi yang selama ini terasa jauh, mahal, atau terlalu rumit.
Warung kopi, rumah makan, dan toko kelontong adalah pasar-pasar kecil masa kini, lengkap dengan kuliner khasnya masing-masing. Kami ingin membantu mereka mencatat, menghitung, dan tumbuh, dengan alat yang dibuat dan didampingi oleh orang yang paham kehidupan di tepian sungai Kalimantan.



